Jun 7, 2024
Filosofi Teras
Sumber dari emosi negatif bukanlah peristiwa-peristiwa dalam hidup, tetapi persepsi/anggapan/pendapat kita sendiri atas peristiwa tersebut.
"We suffer more in imagination than in reality." - Seneca Letters
Kita seringkali menyiksa diri dengan pikiran-pikiran kita sendiri, dan ini lebih menyiksa daripada kenyataan yang sebenarnya akan terjadi. (Hal. 128)
Kita sudah mengkhawatirkan sesuatu jauh lebih dini dari semestinya. Jika kita menderita "sebelum" saatnya, kita juga menderita "lebih" dari semestinya. (Hal. 129)
Sebagian hal ada di dalam kendali kita, sebagian lain tidak ada di dalam kendali kita (yaitu hal-hal eksternal atau orang-orang lain). Selain kita ingin menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi pada diri sendiri, kita suka dibuat jengkel juga oleh hal-hal yang tidak enak yang "tidak kita duga". (Hal. 130)
Praktik premeditatio, atau sengaja memikirkan apa-apa (dan siapa) saja yang akan merusak hari kita, adalah praktik untuk mengantisipasi hal-hal tidak enak yang mungkin terjadi. Dengan demikian, kita mengubah hal-hal tersebut dari "tak terduga", menjadi hal-hal yang "telah diantisipasi". Jika sesuatu berubah dari tidak terduga menjadi bisa diantisipasi, saat kejadian tersebut akhirnya benar-benar terjadi, maka efek tidak enaknya akan jauh berkurang.
"Musibah terasa lebih berat jika tanpa disangka, dan selalu terasa lebih menyakitkan. Karenanya, tidak ada sesuatu pun yang boleh terjadi tanpa kita sangka-sangka. Pikiran kita harus memikirkan segala kemungkinan, dan tidak hanya situasi normal. Karena adakah sesuatu pun di dunia yang tidak bisa dijungkirbalikkan oleh nasib?" - Seneca
(Hal. 131)
Praktik premeditatio menyiapkan kita untuk menghadapi skenario buruk. Dengan membayangkan, kita bisa lebih bersiap untuk mengatasinya. Di sebagian besar situasi yang bisa kita bayangkan, hampir semua kemungkinan terburuknya sebenarnya tidak "segitunya", dan kalau dipikirkan baik-baik, bukanlah akhir segala-galanya dalam hidup. Dan pasti hampir semua kejadian buruk yang terjadi pada kita itu sudah menimpa orang lain, dan lihatlah mereka bisa melaluinya. Jika akhirnya semua hal buruk yang dibayangkan ternyata tidak terjadi, kita akan merasa lebih bahagia dengan hari kita. Ironisnya, negative thinking mungkin bisa membuat seseorang menjadi lebih bahagia. (Hal. 134)
Jangan ribet.
"Gitu aja kok repot?" - Gus Dur
Manusia memang senang membersar-besarkan perkara kecil dalam hidup. Akibatnya ada banyak waktu dan energi terbuang percuma untuk sesuatu yang sebenarnya sepele.
Kita harus memiliki mental yang lebih kuat -- yaitu tidak membesar-besarkan masalah dan segera fokus pada apa yang bisa dilakukan. Karena pada dasarnya, hidup ini memang penuh dengan hal-hal gak enak, itu sudah fakta.
Jika kita marah-marah atau sedih untuk semua hal yg tidak enak dan tidak nyaman, itu sama konyolnya dengan seseorang yang mengunjungi bengkel tukang kayu dan heran kenapa banyak tukang kayu pun heran kenapa banyak sampah kayu disitu. Jika memang giliran kita untuk tertimpa masalah tidak enak yang sepele, ya terima saja. Gak penting juga untuk diperdebatkan eksistensinya.
"Satu hal penting untuk selalu diingat: tingkat perhatian kita harus sebanding dengan objek perhatian kita. Sebaiknya kamu tidak memberikan kepada hal-hal remeh waktu lebih banyak dari selayaknya." - Marcus
(Hal. 138)
"It is not the man who has too little, but the man who craves more, that is poor." - Seneca (hal. 140)
Jika ingin menghentikan sebuah perilaku buruk, maka yang harus kita lakukan bukan hanya menghentikan perilakunya, tetapi juga harus mengidentifikasi dan menghentikan akarnya. Fix the source of the problem. Dalam hal ini, pikiran kita sendiri. (Hal. 141)
By undefined
6 notes ・ 12 views
Indonesian
Beginner